Lebak | sorotbanten.id – Upaya membangun budaya sadar bencana di wilayah pesisir selatan Banten terus diperkuat. Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menghadirkan edukasi mitigasi bencana melalui kegiatan Pameran Sawala Lembur yang digelar di halaman SMA Negeri 1 Bayah, Kabupaten Lebak, Rabu (10/6/2026).
Kegiatan bertema “Membangun Kesadaran Mitigasi Bencana, Kenali Alam dan Siagakan Diri” tersebut secara resmi dibuka oleh Kepala SMAN 1 Bayah, Asep Darmamulya. Acara ini menjadi ruang edukasi, dialog, dan kolaborasi bagi berbagai elemen masyarakat dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di kawasan Banten Selatan.
Pameran Sawala Lembur merupakan bagian dari program Project Humanity yang digagas mahasiswa UMN bekerja sama dengan Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) dan SMAN 1 Bayah.
Kepala SMAN 1 Bayah, Asep Darmamulya, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi mitigasi bencana sangat penting mengingat Bayah berada di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi.
“Mitigasi bencana merupakan pengetahuan yang harus dimiliki masyarakat, khususnya para pelajar. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dikembangkan dan menjadi bagian dari budaya belajar di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Penyelenggara Pameran Sawala Lembur, Gina Fajriatien Nisa, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UMN, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan implementasi hasil pembelajaran dan pengamatan lapangan yang dilakukan tim mahasiswa sejak April 2026.
Menurut Gina, keberhasilan membangun kesadaran mitigasi bencana tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi antara akademisi, sekolah, pemerintah, komunitas, media, dan masyarakat.
“Sebagai event organizer, saya merasa bangga sekaligus terhormat dapat memfasilitasi ruang edukasi, ruang dialog, dan ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu tujuan besar, yaitu membangun kesadaran mitigasi bencana, mengenali alam, dan menyiagakan diri,” katanya.
Ia menegaskan bahwa sebuah kegiatan tidak hanya menjadi agenda seremonial semata, tetapi juga wadah bertemunya gagasan, pengalaman, dan kesadaran kolektif yang mampu melahirkan perubahan positif bagi masyarakat.
“Kami ingin menghadirkan kegiatan yang tidak hanya informatif, tetapi juga interaktif, dekat dengan masyarakat, dan mudah dipahami oleh semua kalangan,” tambahnya.
Gina menjelaskan, nama Sawala Lembur dipilih karena memiliki filosofi yang kuat. Dalam bahasa Sunda, sawala berarti ruang bermusyawarah atau bertukar pikiran, sedangkan lembur berarti kampung atau tempat hidup bersama.
“Karena itu, Sawala Lembur kami maknai sebagai ruang bersama untuk berdialog tentang masa depan kampung, tentang bagaimana masyarakat harus siap, sadar, dan tangguh menghadapi ancaman bencana,” ungkapnya.
Tema mitigasi tsunami yang diangkat dinilai sangat relevan dengan kondisi geografis Bayah dan kawasan Banten Kidul yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Selain ancaman gempa megathrust dan tsunami, wilayah tersebut juga menghadapi risiko longsor serta banjir yang kerap terjadi setiap tahun.
“Ancaman itu tidak boleh membuat kita hidup dalam ketakutan. Sebaliknya, harus menjadi alasan untuk memperkuat kesiapan, memperluas pengetahuan, dan membangun budaya sadar bencana. Sebab, mitigasi terbaik selalu dimulai dari pengetahuan dan kesiapsiagaan,” tegas Gina.
Sebagai bentuk implementasi tema tersebut, panitia menghadirkan tiga pendekatan edukatif dalam satu rangkaian kegiatan. Pertama, peluncuran Buku Katalog Rambu Evakuasi Berbasis Kearifan Lokal karya Cera sebagai media literasi kebencanaan bagi masyarakat.
Kedua, peluncuran board game edukasi tsunami karya Adestua yang dirancang sebagai media pembelajaran kreatif bagi generasi muda untuk memahami konsep mitigasi bencana secara menyenangkan dan interaktif.
“Belajar tentang kebencanaan tidak harus selalu kaku dan menegangkan. Melalui permainan edukatif, pesan mitigasi dapat lebih mudah dipahami dan diingat, khususnya oleh para pelajar,” ujar Gina.
Ketiga, penyelenggaraan talk show kebencanaan yang menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, serta membahas tantangan dan solusi dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Gina juga mengajak para siswa SMAN 1 Bayah untuk menjadi agen perubahan dalam membangun budaya sadar bencana di lingkungan masing-masing.
“Kalian adalah generasi masa depan Bayah dan Banten Kidul. Mulailah dari mengenali tanda-tanda alam, memahami jalur evakuasi, mengetahui titik aman, hingga berani mengambil keputusan cepat saat keadaan darurat,” pesannya.
Dalam kesempatan tersebut turut hadir Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lebak, Sukanta, yang memberikan materi mengenai pentingnya kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana di wilayah Banten Kidul melalui sesi podcast yang dipandu host Jeselyn.
Selain menampilkan tiga program edukasi utama, Pameran Sawala Lembur juga memamerkan sejumlah karya mahasiswa lainnya, di antaranya Buku Saku untuk OSIS karya Ricky, Buku Modul Wali Murid karya Gavriella, serta Buku Guru karya Abigail F.
Penulis : Dase Abdul Rohim
Editor : Andi Saputra











